Skip to main content.
Related sites:
More related sites: www.indonesia-icao.org
Navigation: Home | About Us | Disclaimer | Archive | Contact Us

Sidang ICAO/ATAG/WB Development Forum

"Maximizing Civil Aviation's Economic Contribution"

Safe, Secure and Sustainable Air Transport in Open Skies - Challenges and Potential

24 -26 Mei 2006, ICAO Headquarters, Montreal

Latar Belakang

Air Transport Action Group (ATAG) adalah sebuah organisasi non profit berskala internasional yang bersifat independen. Organisasi yang dipimpin oleh Phillipe Rochat bekas Secretary General ICAO sebagai Executive Director ini meliputi beberapa kelompok perusahaan seperti Boeing dan Airbus yang berkiprah di bidang industri pesawat terbang, sekaligus mempersatukan beberapa kelompok industri angkutan udara dalam upaya untuk turut mendorong terciptanya peningkatan infrastruktur angkutan udara.

Forum ini diprakarsai oleh ATAG bekerja sama dengan ICAO dan World Bank. Salah satu tujuan diadakan pertemuan ini adalah upaya yang berskala internasional dalam memberikan masukan kepada otoritas penerbangan sipil negara-negara anggota ICAO mengingat potensi dan peluang untuk meningkatkan kontribusi perekonomian melalui pelayanan angkutan udaranya berdasarkan data yang diterbitkan oleh ICAO pada tahun 2006, yang tertuang dalam beberapa Working Papers pada DGCA Conference bulan Maret 2006 yang lalu menunjukkan penurunan tingkat keselamatan penerbangan komersial dunia yang signifikan.

Melalui forum ini ATAG akan mengupayakan rumusan pemikiran mengenai langkah nyata apa yang sebaiknya dilakukan oleh otoritas penerbangan beserta semua pihak yang terkait dalam angkutan udara dalam mewujudkan kontribusi ekonomi. Diharapkan dengan peran maksimal industri angkutan udara akan dicapai target pertumbuhan perekonomian sebuah negara.

Kontribusi Angkutan Udara terhadap Pembangunan Ekonomi Global

Pengaruh industri penerbangan terhadap ekonomi global dapat berbentuk direct, indirect dan induced. Data yang disampaikan ATAG menyebutkan bahwa angkutan udara dunia telah menyerap total 29 juta tenaga kerja. Jumlah tersebut terdiri atas 5 juta tenaga kerja dari bentuk pekerjaan langsung, 5,8 juta orang dari pekerjaan tidak langsung yaitu melalui pengadaan barang dan jasa dalam mendukung kelancaran teknis operasional dan 2,7 juta angkutan kerja yang diakibatkan oleh pengeluaran dari industri tenaga kerja serta 15,5 juta orang yang merupakan pengaruh dari kegiatan industri pariwisata udara. Angka-angka tersebut mencerminkan berapa besar pengaruh industri penerbangan dalam menciptakan pasar tenaga kerja.

Pada saat ICAO dibentuk tahun 1944 sebagai amanah pelaksanaan dari the Chicago Convention, sekitar 9 juta penumpang yang terangkut melalui penerbangan internasional. Pada tahun 2005 industri penerbangan dunia telah mengangkut lebih dari 2 milyar penumpang dan 37,7 juta ton kargo. Hal ini dimungkinkan terjadi akibat dukungan fasilitas bandar udara dan pelayanan navigasi udara yang memenuhi syarat keselamatan dan keamanan dunia.

Peluang Angkutan Kargo Khusus Barang Perishable

Dalam kaitannya dengan jenis barang yang diangkut melalui jasa penerbangan ini, jenis barang perishable mengalami peningkatan yang sangat pesat. Data dari Lufthansa Consulting Group (LCG) di bawah ini lebih dititikberatkan kepada barang barang yang bersifat perishable (barang yang bersifat sangat sensitif terhadap suhu dan kemasan dan tidak tahan lama). Ini menggambarkan adanya peningkatan kuantitas barang yang diminati oleh pengimpor di negara-negara maju seperti Amerika, Canada dan Eropa. Dalam hal ini perishable goods memerlukan kemampuan angkut yang bukan hanya dalam kemasan dan ketepatan waktu (OTP) saja namun juga jenis pesawat terbang pengangkut yang memadai.

Pada pertemuan ini disampaikan hasil pengamatan pada tahun 2005 di mana telah terjadi peningkatan alur angkutan udara kargo dari belahan dunia bagian Selatan ke Utara. Ini berarti adanya kecenderungan kenaikan tingkat demand dari negara di wilayah Utara yang memerlukan barang-barang perishable tersebut untuk keperluan sehari-hari.

Sehubungan dengan arus angkutan kargo udara tersebut, Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk dalam pengamatan yang memiliki potensi dalam peningkatan kapasitas angkutan kargonya. Indonesia sebagai bagian dari negara di Asia Pacific memiliki peluang yang sangat besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui angkutan udara kargo.

Jenis barang-barang perishable yang diminati di negara tersebut di atas meliputi antara lain: Daging (beef atau lamb), berbagai jenis sayuran, bunga, ikan dan buah-buahan. Dalam forum ini diambil sebuah contoh menarik yaitu kegagalan negara-negara penghasil dunia buah mangga yang diangkut melalui udara. Negara penghasil mangga terbesar (data 2004) adalah India yang mencapai 39% dari total produk dunia yang sebesar 27,9 juta metric ton, diikuti oleh China (13,13%), Thailand (8,44%), Pakistan (5,99%), Mexico (5,37%) dan Indonesia (5,29%).

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa produk terangkut (export melalui angkutan kargo udara) dari negara-negara tersebut ternyata jauh berbeda dengan urutan tersebut di atas. Realisasi angkutan udara total (ekspor) dunia buah mangga melalui udara hanya mencapai 908,435 metric ton dengan urutan sebagai berikut: Mexico (23,39%), India (17,29%), Brazil (12,24%), Pakistan (9,03%), Peru (6,9%), Netherland (5,56%), Ecuador (4,52%), dan Philippine (3,93%) sedangkan Indonesia tidak termasuk dalam urutan 10 besar atau kurang dari 1%. Ini menunjukkan kesempatan yang sangat berharga namun tidak didukung oleh kemampuan angkutan kargo melalui udara yang memadai.

Dari contoh tersebut terlihat adanya suatu peluang yang belum dapat dipenuhi oleh negara-negara penghasil barang perishable tersebut yang demandnya cukup tinggi di pasaran dunia. Lebih lanjut Lufthansa Consulting Group memberikan gambaran umum bagaimana kesempatan yang sangat berharga dari pengangkutan barang-barang tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Barang perishable yang diminati (data pada tahun 2004) mencapai 15% dari total angkutan kargo udara dunia dengan perkiraan tingkat pertumbuhan sebesar 1.1% pertahun sampai dengan tahun 2008.

Tantangan Dalam Memenuhi Kesempatan Pasar

ATAG mencermati kasus percontohan tersebut. Fungsi angkutan udara memainkan peran utama dalam merubah peluang tersebut menjadi sebuah potensi pembentukan pembangunan ekonomi sebuah negara.

Melalui pembentukan 4 Working Groups dalam forum ini yang membahas tentang Infrastructure, Air Carriers, Safety and Security dan Resource Mobilization & Cooperation diharapkan solusi pemecahan masalah angkutan udara tersebut dapat terjawab.

Infrastruktur

Pembangunan Infrastruktur Bandar udara diperlukan untuk terciptanya institusi pengelolaan Bandar udara dan ruang udara yang mandiri yang memberikan pelayanan secara professional terhadap seluruh pengguna jasa yang memerlukannya. Dalam hal ini dibutuhkan political will (dukungan) semua pihak baik pemerintah sebagai regulator dan dari badan keuangan, departemen teknis terkait, maupun pihak swasta yang berminat menanamkan investasi di bidang usaha kebandarudaraan (privatisasi) dll.

Privatisasi dianggap merupakan prinsip dasar bagi pemerintah dalam menjawab trend menuju kepada kemandirian pengelolaan bandar udara dan ruang udara. Konsekuensinya adalah mengalihkan posisi pemerintah yang semula ikut secara langsung mengelola institusi tersebut menjadi hanya sebatas sebagai regulator yang mengedepankan unsur pembinaan (pengawasan, penegakan hukum/law enforcement)

Air Carriers

Perusahaan penerbangan (operator) adalah salah satu pelaksana dalam pembangunan ekonomi sebuah negara. Insentif apa yang dapat diberikan kepada operator tersebut yang telah turut membantu pemerintah dalam melaksanakan pembangunan pertumbuhan ekonomi tersebut? Pemerintah harus bersikap realistis dalam memberikan beberapa kemudahan agar setiap operator dapat melaksanakan tugas pembangunan ekonomi dengan optimal dan professional. Keterlibatan pemerintah harus lebih bersifat pembina dan proaktif. Konsep Low Cost Carriers(LCCs) yang dikenal oleh industri penerbangan di North America dengan sebutan Legacy Carriers (LCs) merupakan bentuk ideal dalam kondisi saat ini untuk menjawab fluktuasi harga avtur atau avgas yang mencapai harga tertinggi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Konsep mempertemukan user sebagai buyer dan operator sebagai seller dengan tingkat harga yang sesuai dengan daya beli di sebuah negara merupakan kondisi yang sesuai saat ini. Liberalisasi airlines merupakan sebuah ancaman hanya bagi airlines yang menolak adanya perubahan menuju ke tahap kemajuan model bisnis di angkutan udara. Liberalisasi dapat membantu menuju kesuksesan komersialisasi, ketangguhan keuangan dan peningkatan kapasitas usaha. LCC merupakan jawaban yang paling tepat pada saat ini terhadap perubahan kondisi pada industri penerbangan yang mengarah kepada liberalisasi.

Safety dan Security

Tuntutan keselamatan dan keamanan penerbangan adalah tuntutan dunia internasional. Penumpang yang datang berasal dari seluruh dunia dapat menjadi korban kecelakaan di negara di mana tingkat keselamatannya sangat rendah. Pesawat terbang dan awak pesawat yang berasal dari negara yang rekor keselamatan penerbangannya rendah akan memperoleh dampak negatif dari negara lainnya.

Proses terbentuknya keselamatan penerbangan tidak akan pernah dapat dilewati oleh pihak manapun yang bertanggungjawab dalam industri penerbangan. Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP) dari ICAO merupakan program dunia yang diberlakukan terhadap 189 negara anggota. Program ini lebih difokuskan kepada unsur pemerintah sebagai regulator. Dari sisi operator, IATA yang merupakan asosiasi operator dunia akan memberlakukan IATA Oversight Safety Audit (IOSA) terhadap semua airlines yang menjadi anggotanya selambat-lambatnya sampai dengan akhir tahun 2007. Konsepnya tersebut sepenuhnya mengacu kepada aplikasi SARPs ICAO. Terhadap bandar udara, Airport Council International (ACT) juga melakukan pengawasan secara cermat terhadap fasilitas dan prosedur bandar udara di negara anggotanya dalam menunjang keselamatan penerbangan internasional. Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi semua bentuk kebijakan dalam proses terbentuknya keselamatan dan keamanan penerbangan akan mengarah kepada kebijakan yang bersifat mandatory (wajib).

Resources Mobilization and Cooperation

Beberapa institusi internasional seperti World Bank, ICAO atau UNWTO sangat memerlukan data (tentang penerbangan sipil) yang akurat dari sebuah negara anggota. Masalah keterbukaan dan keabsahan data yang paling mutakhir merupakan kunci keberhasilan usaha mobilisasi ini yang akan dijadikan tolok ukur dari badan dunia tersebut dalam menjalankan misi kebijakan dunianya.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil keempat kelompok kerja tersebut diperoleh kesimpulan umum bahwa otoritas penerbangan bersama dengan pelaku di industri penerbangan harus saling bekerjasama dan mengisi (complimentary) dalam memantapkan proses angkutan udara yang lebih berperan lagi. Untuk mewujudkan angkutan udara yang memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan ekonomi sebuah negara diperlukan beberapa langkah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan penerbangan kargo udara sebagai alternatif penerbangan penumpang internasional. Dalam hal ini Indonesia memiliki peluang besar dalam angkutan kargo udara khususnya barang-barang perishable;
  2. Pembangunan infrastruktur angkutan udara diarahkan menuju pengelolaan bandar udara dan ruang udara yang lebih mandiri dengan mengutamakan profesionalisme;
  3. Keterlibatan pemerintah hanya sebatas sebagai regulator yang berfungsi sebagai pembina khususnya di masalah keselamatan, keamanan dan keteraturan serta persaingan di antara pelaku industri penerbangan;
  4. Privatisasi pengelolaan bandar udara dan ruang udara merupakan jawaban yang tepat dalam mengantisipasi liberalisasi industri penerbangan dunia yang semakin kompetitif;
  5. Keterbukaan dan pertukaran data (penerbangan) dari sebuah negara anggota akan menjadi pendorong peningkatan keselamatan, keamanan dan keteraturan untuk saling melakukan pengawasan.
  6. Konsep LCC harus difasilitasi oleh pemerintah sebagai sebuah insentif dengan mempersiapkan fasilitas khusus atau membangun infrastruktur bandar udara yang sesuai dengan kondisi konsep tersebut;
  7. Bandar udara merupakan driver pasar tenaga kerja professional.

Sidang ALLPIRG di ICAO

All Planning and Implementation Regional Group (ALLPRIG)/ Advisory Group - Fifth Meeting, 23 - 24 Maret 2006

Tempat Sidang: Conference Room 3, 1st floor - ICAO, 999 University Street, Montreal

Rangkuman Hasil Sidang

ALLPIRG merupakan sidang yang dihadiri bukan hanya oleh pemutus kebijakan namun juga oleh pelaksana keputusan dari semua kantor regional ICAO beserta kelompok kerjanya. Hadir dalam pertemuan ini adalah para pelaksana di bidang Keselamatan, Keamanan, Meteorologi, AIS, Navigasi Penerbangan, Environment dan Air Transport.

Sidang ini merupakan kesepakatan yang telah diputuskan di tingkat regional. Untuk region Asia Pacific dikenal sebagai Asia Pacific Air Navigation Planning and Implementation Regional Group (APANPIRG) yang diadakan di di Bangkok. Pertemuan ini merupakan kelompok regional yang selalu dihadiri oleh wakil dari Departemen Perhubungan, Ditjen Perhubungan Udara.

Sidang ini lebih banyak membahas tentang aspek teknis pendukung keselamatan penerbangan seperti bagaimana membentuk harmonisasi penggunaan alat bantu navigasi berbasis satelit, yang saat ini dipersiapkan bahkan terus dikembangkan oleh beberapa negara maju seperti: kelompok EU, Amerika Serikat, Jepang dan Rusia.

Momentum sidang ALLPIRG yang dilaksanakan setelah berakhirnya DGCA Conference merupakan keputusan yang paling tepat, mengingat ALLPIRG juga menindaklanjuti kesepakatan bersama antar negara khususnya di bidang keselamatan dan keamanan penerbangan sipil yang sebelumnya telah diputuskan dalam DGCA Conference.

Pada pertemuan ALLPIRG ini juga dipaparkan perubahan Global Air Navigation Plan dan didiskusikan rencana tentang pemantapan dari Air Traffic Management (ATM). Fokus dari pertemuan ini adalah keselamatan dan keamanan penerbangan dalam kaitannya dengan Global Air Navigation Plan diantara negara (tetangga) regional dalam melakukan kordinasi dan harmonisasi. Pertemuan yang dipimpin oleh Dr. Assad Kotaite selaku Chairman ini diikuti oleh sekitar 100 peserta. ALLPIRG merupakan wacana bersama kesepakatan dalam melaksanakan harmonisasi prosedur. Untuk memperoleh kondisi tersebut diperlukan dukungan konkrit dari otoritas penerbangan sipil. ALLPIRG juga membahas dan mendiskusikan masalah yang menyangkut pelayanan navigasi udara, angkutan udara dan operasi teknis serta peningkatan rekomendasi dalam implementasi harmonisasi ATM secara global.

Konperensi "DGCA on a Global Strategy for Aviation Safety" di ICAO

Konperensi Direktur Jenderal Penerbangan Sipil dari Negara-Negara Anggota ICAO di Montreal, 20 - 22 Maret 2006

Konperensi ini dihadiri oleh wakil dari 152 negara anggota ICAO dan 26 organisasi internasional, dengan total peserta mencapai 526 orang, termasuk 7 wakil dari Indonesia dan 3 orang dari perwakilan RI di ICAO.

Materi pembahasan di sidang DGCA ini antara lain meliputi:

  1. Keselamatan Penerbangan Secara Umum;
  2. Peningkatan Keselamatan Penerbangan oleh Negara-Negara Anggota;
  3. Global Aviation Safety Roadmap ICAO;
  4. Transparansi dan Sharing Informasi;
  5. Penegakan Konsep Keadilan;

Selanjutnya...»

Sidang ANC di ICAO (2)

HASIL SIDANG DEWAN DAN ANC 16-20 JANUARI 2006

Berikut ini kami sampaikan secara singkat ringkasan hasil beberapa sidang Dewan yang diselenggarakan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional ICAO dalam sidang ANC ke-177 di Montreal.

Materi pembahasan di sidang Air Navigation Commissions meliputi:

  1. Program kerja sesi ke-171 ANC;
  2. Final review of proposed amendments to Annex 6, Parts I and III; dan
  3. Amendment to the Global Air Navigation Plan for CNSI ATM Systems (Doc. 9750);

Ringkasan Pembahasan

Sidang ANC 17-20 Januari 2006 merupakan sidang pertama dalam mengawali rangkaian berkelanjutan program pembahasan sesi ke-171 ANC masa sidang 2006 - 2007.

Pembahasan secara berturut-turut menitikberatkan pada Kertas Kerja AN WP/8091, AN WP/8089 dan AN-WP/8085. Sesi ke-171 ANC dirancang untuk membahas tugas yang sebagian besar merupakan kelanjutan sesi ke-170 sebagai berikut:

Selanjutnya...»

Home